Wednesday, July 3, 2019

Muse

Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi. Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.
Kahlil Gibran
“Test”
Aku tersenyum melihat pesan yang muncul dilayar HPku
“Bramastoooooo, kangen neeeh, kemana aja?”
Akupun membalas pesan yang dikirimkan oleh Bramasto, sahabat karibku.
Biasanya setiap akan berbicara atau mengobrol dengan aku, bram terlebih dulu akan mengirimkan pesan aneh sebagai pembuka. Ketimbang mengucapkan salam, bram lebih memilih untuk menggunakan kata “test” itu terlebih dulu.
“Biasa ta, sibuk ”
Ah, selalu itu yang jadi alasan bram, sibuk
“Ta, ketemuan yuk, ada yang ingin aku bicarain”
Tumben
Kemudian aku pun  teringat film the last airbender yang ingin sekali aku tonton. Film fantasi yang akan di rilis bulan ini. Tadinya film ini akan diberi judul Avatar : The last Airbender, namun agar tidak rancu dengan film Avatar yang disutradarai oleh james Cameron dan sempat mendapatkan penghargaan Oscar itu, maka film ini akhirnya diberi judul The last airbender saja. Film ini ditulis dan disutradarai oleh M. Night Shyamalan, yang merupakan film adaptasi dari serial televisi berjudul Avatar: The Last Airbender ciptaan Michael Dante DiMartino dan Bryan Konietzko yang dipengaruhi oleh kesenian di Asia, mitologi di Asia, dan beragam seni bela-diri.
Aku penasaran sekali ingin melihat film ini.
“Sambil nonton ya bram?”
Aku pun mengajak bram untuk menonton film Avatar itu. Berulang kali aku selalu berusaha mengajak bram untuk menonton, dan berulang kali pula ajakan itu selalu ditolaknya.
Bagi Bram, menonton film di bioskop adalah pekerjaan yang tidak mengasyikan, hanya buang buang waktu saja, time consuming. Selain itu, masih menurut bram, alasan kenapa ia tidak suka nonton di bioskop adalah, harus antri beli tiket lah, ga boleh berisik, film nya ga bisa di pause kalau dia mau buang air kecil ke toilet, sampai sampai penyejuk udara di bioskop juga dituding oleh bram sebagai penyebab keengganannya untuk nonton di bioskop. Terlalu dingin katanya.
Itulah alasan kenapa sudah berpuluh puluh tahun Bram tidak pernah menjejakkan kakinya di Bioskop. Tanpa kenal putus asa, setiap akan menonton film, aku selalu berusaha mengajak bram untuk ikut serta. Termasuk kali ini
“Oke deh, sekali ini aja deh, demi tata,. Tapi setelah nonton kita makan malem ya, ada hal penting banget nih ta. Nanti aku yang minta ijin dulu deh sama Aditya.”
Diluar dugaan, baru kali ini bram menerima ajakanku untuk nonton film di bioskop. Ah, senangnya.
Dan sudah menjadi kebiasaan nya untuk meminta ijin pada Aditya, suamiku, setiap kali ia mengajak ku jalan keluar untuk sekedar menemaninya makan, atau pun membunuh waktu.
Ya, aku sudah menikah dengan Aditya selama hampir tujuh tahun. Kami sudah dikaruniai seorang anak perempuan yang sehat dan cerdas, bernama Oraia. Dalam bahasa yunani oraia berarti ‘jelita’. Sungguh beruntung aku memiliki anak seperti oraia, dan suami seperti Aditya, yang mampu mengerti dan memahami hubungan persahabatanku dengan bram, yang sudah terjalin selama sepuluh tahun. Jauh sebelum aku bertemu dengan Aditya
“Siap bos, tapi tunggu aku libur mengajar dulu ya Bram, seminggu lagi Ujian Akhir kok” balas aku
“thx tata”
Akupun melanjutkan pekerjaanku mengoreksi lembar kerja mahasisiwaku. Semester genap ini, aku kebagian membimbing tugas akhir mahasiswaku yang berjumlah tujuh puluh lima orang yang terbagi dalam lima belas kelompok. Agar dapat lulus mereka harus membuat satu karya, pilihannya adalah membuat program untuk televisi maupun radio. Dan kebetulan karena backgroundku lebih banyak di dunia radio, maka keseluruhan karya yang aku bimbing adalah pembuatan program radio berita maupun non berita
Untuk program berita, anak – anak itu bisa memilih untuk membuat bulletin berita, majalah udara ataupun program dokumenter. Untuk program majalah udara pun mereka masih dapat memilih untuk membuat news magazine, subject magazine, special audiences magazine, atau variety magazine. Majalah udara adalah program yang mengadopsi majalah cetak biasa menjadi program siaran untuk radio.
Sementara untuk program non berita mereka dapat membuat program talkshow, variety show, drama radio, ataupun komedi situasi. Sungguh melelahkan melihat tumpukan dispro yang harus aku koreksi lembar per lembar itu. Tapi melihat antusiasme anak – anak itu dalam mengerjakan tugas akhir itu, membuatku bersemangat untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka. Walaupun tidak jarang pula anak – anak itu bertengkar dengan sesama temannya. Maklum, tugas itu harus dikerjakan secara berkelompok. Jadilah aku sebagai penengah diantara mereka.
Waktu pun berlalu semenjak sms terakhirku dengan bram. Akupun disibukan dengan persiapan menghadapi ujian akhir, mulai dari membuat soal ujian, mengkoordinasikan pelaksanaannya, mengoreksi lembar jawaban sampai penginputan nilai.
Lagu k’enan “Wafin flag” yang menjadi soundtrack event piala dunia dua ribu sepuluh pun menggema, pertanda ada telephone yang masuk. Setelah membaca nama yng tertera di layar hpku, dengan penuh semangat akupun mengangkat telephone itu.
“Braaaaaam…..Aku kangen….” teriakku
Dengan bram aku bisa berubah menjadi sosok gadis kecil yang manja. Maklum beda usia kami cukup jauh. Lebih dari delapan tahun.
“iye… lagi ngapain?”
Sambutan yang dingin, seperti biasa.
“Lagi nonton video porno, hua ha ha…… Enggak lah, lagi ngoreksi neeh… Ada apa ?”
Masih dengan antusiasme yang tinggi
“Aku dah ngosongin jadwal buat besok, ketemuan yaa?”
Your wish is my command
Ga ada alasan untuk menolak, karena memang pekerjaanku sudah tidak banyak lagi. Selain itu aku teramat rindu untuk bertemu dengan bram.
“adit udah tidur ta?”
Ah bram, dia tidak pernah lupa untuk meminta ijin kepada suamiku. Kebiasaan yang mulai dilakoninya sejak tujuh tahun silam.
“Adit lagi nonton tv, kamu pengen ngomong ya? Sebentar ya aku sambungkan sama adit”
Dan sesuai dugaanku, aditya memberikan ijin bagi istrinya untuk bertemu dengan sahabatnya.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kami berjanji untuk bertemu di bioskop pukul setengah lima sore, namun aku sudah tiba satu jam lebih awal untuk membeli tiket Avatar The last airbender. Wah ternyata hari sabtu ini, banyak orang yang ingin menonton film ini. Antreannya lumayan panjang. Dan untunglah aku masih dapat posisi di tempat favourite ku, row F nomor tujuh belas dan delapan belas. Waktu masih menunjukan pukul empat sore, masih ada waktu tiga puluh menit sebelum bram tiba.
Akupun mencari tempat duduk yang kosong di dalam Cinema XXI dan mulai membaca bab terakhir buku negri lima menara yang baru saja aku beli. Aku tertarik membeli buku itu setelah aku melihat tayangan Kick andy yang membahas mengenai buku ini. Kemudian membaca sinopsisnya disebuah website yang aku kunjungi belum lama ini.
Dikisahkan didalam buku ini, Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: Belajar di pondok pesantren.
Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan "mantera" sakti man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara
Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif akhirnya berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung berarak pulang ke ufuk. Di mata
belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Terhanyut dengan kisah lima orang sahabat di pesantren modern, membuatku tidak sadar kalau bram sudah duduk manis disampingku.
“Dah lama ya nunggunya?”
“Lumayan, daripada lumanyun”
Kamipun tertawa bersama sama
Tidak seperti biasanya, hari itu bram tampil sangat santai, Levi’s cargo shorts berwarna coklat yang nyaman dan santai dengan dua sisi miring saku, dipadu dengan polo shirt berwarna krem. He looks nice
Diluar dugaanku, ternyata Bram sudah membawa aneka cemilan dan minuman ringan. Banyak sekali bawaannya.
“Bram, kamu mau makan atau nonton film?” tanyaku terheran heran
“Kamu tau kan, kalo aku ga suka nonton film. Demi tuan putri hari ini aku mau disuruh nonton film”
Itu tidak menjawab pertanyaanku, siapa yang akan memakan semua cemilan itu.
“ Tentu saja Tata, biar kamu tambah ndutz”
Ah bram, dia tahu sekali bagaimana merusak hari indahku. Dia tahu betapa kesalnya aku ketika ada orang yang bilang gendut. Padahal kalau dipikir piker aku sih ga gendut banget. Timbanganku Cuma tiga puluh kilogram. Tapi hanya separuhnya saja. Jadi kalau ditotal, ya sekitar enam puluh kilogram lah. Sexi kan?
“Bram, perasaanku jadi ga enak ni, pasti kamu ada maunya”
Tiba tiba terdengar pengumuman bahwa pintu theatre tiga tempat film The last Airbender sudah dibuka. Kami berdua pun bergegas menuju pintu thatre tiga.
Dan betapa kesalnya aku, ternyata aku harus menikmati film itu seorang diri. Betapa tidak, ketika film baru diputar selama sepuluh menit, bramasto sudah tertidur. Untungnya bram tidak mendengkur.
Dan aku pu beruntung karena cerita the last airbender begitu serunya, sehingga aku tidak begitu terganggu dengan aktivitas bram yang hanya tidur selama pertunjukan. Film ini berkisah tentang masa lampau, dimana ada empat bangsa yang mendiami dunia. Keempat bangsa tersebut yaitu Air, Bumi, Api & Udara (Air Nomads) hidup damai berkat penjagaan dari sang Avatar. Ia satu-satunya yang mampu menyatukan empat elemen tersebut.
Suatu waktu sang Avatar pergi. Bangsa Api lalu menyerang dan berperang dengan tiga negara lainnya selama seratus tahun. Harapan untuk kembalinya perdamaian muncul dengan kehadiran Aang, Avatar baru yang berasal dari bangsa pengembara Udara (Airbender) dan baru berusia 12 tahun. Aang diharapkan dapat menghentikan penjajahan Bangsa Api serta menyatukan kembali keempat elemen untuk mengembalikan kedamaian dunia.
Petualangan Aang sebagai penerus avatar, seorang yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan air, api, udara dan tanah bersama teman-temannya untuk menyelamatkan dunia dari kekejaman negara api yang ingin menguasai bumi. Dalam perjalanannya, Aang ditemani oleh Katara dan Sakka menghadapi pangeran dari negara api yaitu pangeran Zuko. Menurut Rencana si katanya  film ini akan menjadi seri pertama dari trilogi The Last Airbender. ( To be continued)

No comments:

Post a Comment